Next Post Previous Post

8 Jun 2009

Asas-asas Sistem Ekonomi Islam

Posted by admin

Tiga Asas Sistem Ekonomi Islam

Dengan melakukan istiqra` (penelahan induktif) terhadap hukum-hukum syara’ yang bersangkut masalah ekonomi, akan dapat disimpulkan bahawa Sistem Ekonomi (an-nizham al-iqtishady) dalam Islam mencakupi perbahasan yang menjelaskan bagaimana pemerolehan harta kekayaan (barang dan jasa), bagaimana mengelola (mempergunakan dan mengembangkan) harta tersebut, serta bagaimana menyalurkan/membahagi kekayaan yang ada.

Atas dasar pandangan di atas, maka menurut Zallum (1983), Az-Zain (1981), An-Nabhaniy (1990), dan Abdullah (1990), asas-asas pembangunan sistem ekonomi Islam terdiri dari atas tiga asas, iaitu :

1. bagaimana harta diperolehi yakni berkenaan kepemilikan (al-milkiyah),
2. bagaimana pengelolaan kepemilikan harta (tasharruf fil milkiyah), serta
3. bagaimana pengagihan kekayaan kepada masyarakat (tauzi’ul tsarwah bayna an-naas).

Asas Pertama : Kepemilikan (Al-Milkiyyah)

An-Nabhaniy (1990) mengatakan, kepemilikan adalah izin As-Syari’ (Allah SWT) untuk memanfaatkan zat (benda) tertentu. Oleh karena itu, kepemilikan tersebut hanya ditentukan berdasarkan ketetapan dari As-Syari’ (Allah SWT) terhadap benda tersebut, serta sebab-sebab pemilikannya. Jika demikian, maka pemilikan atas suatu benda tertentu, tentu bukan semata berasal dari benda itu sendiri, ataupun dan karakter dasarnya yang memberikan manfaat atau tidak. Akan tetapi kepemilikan tersebut berasal dari adanya izin yang diberikan Allah SWT untuk memiliki benda tersebut, sehingga melahirkan akibatnya, yaitu adanya pemilikan atas benda tersebut menjadi sah menurut hukum Islam. Minuman keras dan babi, misalnya, dalam pandangan ekonomi kapitalis memang boleh dimiliki, karena zat bendanya memberikan manfaat-manfaat. Tetapi menurut Islam, minuman keras dan babi tidak boleh dimiliki, karena Allah SWT tidak memberikan izin kepada manusia untuk memilikinya.

Makna Kepemilikan

Kepemilikan (property), dari segi kepemilikan itu sendiri, pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT, dimana Allah SWT adalah Pemilik kepemilikan tersebut sekaligus juga Allahlah sebagai Dzat Yang memiliki kekayaan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

‘Dan berikanlah kepada mereka, harta (milik) Allah yang telah Dia berikan kepada kalian.’ (QS. An-Nuur : 33)

Oleh karena itu, harta kekayaan itu adalah milik Allah semata. Kemudian Allah SWT telah menyerahkan harta kekayaan kepada manusia untuk diatur dan dibagikan kepada mereka. Karena itulah maka sebenarnya manusia telah diberi hak (walaupun ada pendapat mengatakan ianya bersifat sementara) untuk memiliki dan menguasai harta tersebut. Sebagaimana firman-Nya :

‘Dan nafkahkanlah apa saja. yang kalian telah dijadikan (oleh Allah) berkuasa terhadapnya. ‘(QS. Al-Hadid : 7)

‘Dan (Allah) membanyakkan harta dan anak-anakmu.’ (QS. Nuh : 12)

Dari sinilah kita temukan, bahawa ketika Allah SWT menjelaskan tentang status asal kepemilikan harta kekayaan tersebut, Allah SWT menyandarkan kepada diri-Nya, dimana Allah SWT menyatakan ‘Maalillah’ (harta kekayaan milik Allah). Sementara ketika Allah SWT menjelaskan tentang perubahan kepemilikan kepada manusia, maka Allah menyandarkan kepemilikan tersebut kepada manusia. Dimana Allah SWT menyatakan dengan firman-Nya :

‘Maka berikanlah kepada mereka harta-hartanya. ‘(QS. An-Nisaa` : 6)

‘Ambillah dari harta-harta mereka. ‘(QS. Al-Baqarah : 279)

‘Dan harta-harta yang kalian usahakan.’ (QS. At-Taubah : 24)

‘Dan hartanya tidak bermanfaat baginya, bila ia telah binasa.’ (QS. Al-Lail :11)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa hak milik yang telah diserahkan kepada manusia (istikhlaf) tersebut bersifat umum bagi setiap manusia secara keseluruhan. Sehingga manusia memiliki hak milik tersebut bukanlah sebagai kepemilikan bersifat rill. Sebab pada dasarnya manusia tidak diberi sewenang-wenangnya untuk menguasai hak milik tersebut. Oleh karena itu agar manusia benar-benar secara rill memiliki harta kekayaan (hak milik), maka Islam memberikan syarat iaitu harus ada izin dari Allah SWT kepada orang tersebut untuk memiliki harta kekayaan tersebut. Oleh kerana itu, harta kekayaan tersebut hanya boleh dimiliki oleh seseorang apabila orang yang bersangkutan mendapat izin dari Allah SWT untuk memilikinya.

Kesimpulannya, Allah memberikan izin untuk memiliki beberapa zat dan melarang memiliki zat yang lain. Allah SWT juga telah memberikan izin terhadap beberapa transaksi serta melarang bentuk-bentuk transaksi yang lain. Allah SWT melarang seorang muslim untuk memiliki minuman keras dan babi, sebagaimana Allah SWT melarang siapa pun yang menjadi warga negara Islam untuk memiliki harta hasil riba dan perjudian. Tetapi Allah SWT memberi izin untuk melakukan jual-beli, bahkan menghalalkannya, disamping melarang dan mengharamkan riba.

Jenis-jenis Kepemilikan

Zallum (1983); Az-Zain (1981); An-Nabhaniy (1990); Abdullah (1990) mengemukakan bahawa kepemilikan (property) menurut pandangan Islam dibezakan menjadi tiga kelompok, iaitu :

(1). Kepemilikan individu (private property);
(2) kepemilikan umum (collective property);
(3) kepemilikan negara (state property).

1) Kepemilikan Individu (private property)

that's somewhat the view i get from my houseKepemilikan individu adalah ketetapan hukum syara’ yang berlaku bagi zat ataupun manfaat (jasa) tertentu, yang memungkinkan siapa saja yang mendapatkannya untuk memanfaatkan barang tersebut, serta memperoleh kelebihan dari barang tersebut (jika barangnya diambil kegunaannya oleh orang lain seperti disewa, ataupun kerana digunapakai untuk dihabiskan zatnya seperti dibeli). Oleh kerana itu setiap orang boleh memiliki kekayaan dengan sebab-sebab (cara-cara) kepemilikan tertentu.

An-Nabhaniy (1990) mengemukakan, dengan mengkaji secara komprehensif hukum-hukum syara’ yang menentukan pemilikan seseorang atas harta tersebut, maka akan nampak bahawa sebab-sebab kepemilikan tersebut terbatas pada lima sebab berikut ini :

(1) Bekerja.
(2) Warisan.
(3) Belas Ikhsan / Bantuan untuk meneruskan hidup.
(4) Harta pemberian negara yang diberikan kepada rakyatnya.
(5) Harta-harta yang diperoleh oleh seseorang dengan tanpa mengeluarkan harta atau tenaga apapun.

2). Kepemilikan Umum (collective property)

Kepemilikan umum adalah izin As-Syari’ kepada suatu komuniti untuk bersama-sama memanfaatkan sesuatu benda. Benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh Allah SWT dan Rasulullah saw bahwa benda-benda tersebut untuk suatu komuniti dimana mereka masing-masing saling memerlukannya. Berkaitan dengan pemilikan umum ini, hukum Islam melarang benda tersebut dikuasai hanya oleh seseorang dari sekelompok kecil orang. Dan pengertian di atas maka benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok :

sunagi-kampar-750pix.jpga. Benda-benda yang merupakan fasiliti/keperluan umum, dimana kalau tidak ada di dalam suatu negeri atau suatu komuniti, maka akan menyebabkan kesulitan hidup dan masyarakat akan berpecah-belah ke sana ke mari mencarinya.

Yang merupakan fasiliti umum adalah apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum. Rasulullah saw telah menjelaskan dalam sebuah hadits bagaimana sifat fasiliti umum tersebut. Dari lbnu Abbas, bahawa Nabi saw bersabda:

‘Kaum muslimin bersatu (berkongsi) dalam tiga barang, iaitu air, padang rumput, dan api.’ (HR. Abu Daud)

Anas ra meriwayatkan hadits dari lbnu Abbas ra. tersebut dengan menambahkan : “wa tsamanuhu haram” (dan harganya haram), yang bererti dilarang untuk diperjualbelikan. lbnu Majah juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahawa Nabi saw bersabda :

‘Tiga hal yang dilarang (untuk dimiliki siapapun) iaitu air, padang rumput, dan api.’ (HR. Ibnu Majah).

Dalam hal ini terdapat dalil, bahawa manusia memang sama-sama memerlukan air, padang rumput dan api, serta terdapat larangan bagi individu untuk memilikinya. Namun perlu ditegaskan di sini bahawa sifat benda-benda yang menjadi fasiliti umum adalah kerana jumlahnya yang besar dan menjadi keperluan umum masyarakat. Namun jika jumlahnya terbatas seperti tali air kecil di perkampungan dan sejenisnya, maka dapat dimiliki oleh individu dan dalam keadaan demikian air tersebut merupakan milik individu. Rasulullah saw telah membolehkan air di Thaif dan Khaibar untuk dimiliki oleh individu-individu penduduk.

Oleh karena itu jelaslah, bahwa sesuatu yang merupakan kepentingan umum adalah apa saja yang kalau tidak terpenuhi dalam suatu komuniti, apapun komunitinya, seperti komuniti desa, perbandaran, ataupun suatu negeri, maka komuniti tersebut akan bercerai-berai untuk mendapatkannya. Oleh karena itu, benda tersebut dianggap sebagai fasiliti umum.

b. Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki hanya oleh individu secara perseorangan.

Sistem transportasi di jalan rayaYang juga dapat dikategorikan sebagai kepemilikan umum adalah benda-benda yang sifat pembentukannya mencegah hanya dimiliki oleh pribadi. Hal ini karena benda-benda tersebut merupakan benda yang tercakup kemanfaatan umum (kelompok pertama di atas). Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah jalan raya, sungai, masjid dan fasiliti umum lainnya. Benda-benda ini dari segi bahawa merupakan fasiliti umum adalah hampir sama dengan kelompok pertama. Namun meskipun benda-benda tersebut seperti jenis yang pertama, namun benda-benda tersebut berbeza dengan kelompok yang pertama, dari segi sifatnya, bahwa benda tersebut tidak boleh dimiliki oleh individu. Barang-barang kelompok pertama dapat dimiliki oleh individu jika jumlahnya kecil dan tidak menjadi sumber keperluan suatu komuniti. Misalnya mata air, mungkin saja dimiliki oleh individu, namun jika mata air tersebut diperlukan oleh suatu komuniti maka individu tersebut dilarang memilikinya. Berbeza dengan jalan raya, masjid, sungai dan lain-lain yang memang tidak mungkin dimiliki oleh individu.

Oleh kerana itu, meskipun dalil hadits di atas boleh digunapakai pada kelompok b ini, iaitu sama-sama sebagai fasiliti umum, tetapi benda-benda di kelompok kedua ini tidak boleh dimiliki individu. Ini meliputi jalan, sungai, laut, danau, tanah-tanah umum, teluk, selat dan sebagainya. Yang juga boleh disetarakan dengan contoh2 lain tadi seperti masjid, tempat-tempat penampungan, dan sebagainya.

c. Perlombongan / Bahan galian yang jumlahnya sangat besar : Bahan galian dapat diklasifikasikan menjadi dua, iaitu bahan galian yang sedikit (terbatas) jumlahnya, yang tidak termasuk berjumlah besar menurut ukuran individu, serta bahan galian yang sangat banyak (hampir tidak terbatas) jumlahnya. Barang galian yang sedikit (terbatas) jumlahnya termasuk milik pribadi, serta boleh dimiliki secara pribadi, dan terhadap bahan tambang tersebut diperkenakan hukum rikaz (barang temuan), yang darinya harus dikeluarkan khumus, yakni 1/5 bagiannya (20%).

http://www.primaironline.com/images_content/20090427tambang.jpgAdapun bahan galian yang sangat banyak (hampir tidak terbatas) jumlahnya, yang tidak mungkin dihabiskan oleh individu, maka bahan galian tersebut termasuk milik umum (collective property), dan tidak boleh dimiliki secara pribadi. Imam At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Abyadh bin Hamal, bahawa dia telah meminta kepada Rasulullah saw untuk dibolehkan mengelola sebuah perusahaan garam. Lalu Rasulullah saw memberikannya. Setelah ia pergi, ada seorang laki-laki dari majlis tersebut bertanya:

‘Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu bagaikan air yang mengalir.’ Rasulullah saw kemudian menarik kembali kebenaran tersebut darinya. (HR. At-Tirmidzi)

Hadits tersebut menyerupakan perusahaan garam dengan air yang mengalir, kerana jumlahnya yang sangat besar. Hadits ini juga menjelaskan bahwa Rasulullah saw memberikan perusahaan garam kepada Abyadh bin Hamal yang menunjukkan kebolehannya memiliki perusahaan itu. Namun tatkala beliau mengetahui bahwa bahan galian tersebut merupakan bahan galian yang mengalir (jumlahnya sangat besar), maka beliau mencabut pemberiannya dan melarang dimiliki oleh peribadi, kerana galian tersebut merupakan milik umum.

Ketetapan hukum ini, yakni ketetapan bahawa bahan galian yang sangat besar jumlahnya adalah milik umum, meliputi semua bahan galian, baik bahan galian yang nampak yang boleh diperolehi tanpa harus susah payah, yang boleh didapatkan oleh manusia, serta boleh mereka manfaatkan, seperti bahan galian garam, bahan galian batu permata dan sebagainya; ataupun bahan galian yang berada di dalam perut bumi, yang tidak boleh diperolehi selain dengan kerja dan susah payah, seperti bahan galian emas, perak, besi, tembaga, timah, marmar, dan sejenisnya. Baik berbentuk padat, seperti kristal ataupun berbentuk cecair, seperti minyak bumi, maka semuanya adalah bahan galian yang termasuk dalam pengertian hadits di atas.

3). Kepemilikan Negara (state property)

Harta-harta yang termasuk milik negara adalah harta yang merupakan hak seluruh kaum muslimin yang pengelolaannya menjadi tanggungjawab negara, dimana negara dapat memberikan kepada sebahagian warga negara, sesuai dengan kebijaksanaannya. Makna pengelolaan oleh negara ini adalah adanya kekuasaan yang dimiliki negara untuk mengelolanya seperti harta fai’, kharaj, jizyah dan sebagainya.

Meskipun harta milik umum dan milik negara pengelolaannya dilakukan oleh negara, namun ada perbezaan antara kedua bentuk hak milik tersebut. Harta yang termasuk milik umum pada dasarnya tidak boleh diberikan negara kepada siapapun, meskipun negara dapat membenarkan kepada orangramai untuk mengambil dan memanfaatkannya. Berbeza dengan hak milik negara dimana negara berhak untuk memberikan harta tersebut kepada individu tertentu sesuai dengan kebijaksanaan negara.

Sebagai contoh  air, perlombongan garam, padang rumput, lapangan dan lain-lain tidak boleh sama sekali negara memberikannya kepada orang tertentu, meskipun semua orang boleh memanfaatkannya secara bersama-sama sesuai dengan keperluannya. Berbeza dengan harta kharaj yang boleh diberikan kepada para petani saja sedangkan yang lain tidak. Juga dibolehkan harta kharaj dipergunakan untuk keperluan belanja negara saja tanpa dibahagikan kepada seorangpun.

Asas Kedua : Pengelolaan Kepemilikan (at-tasharruf fi al milkiyah)

Pengelolaan kepemilikan adalah sekumpulan tatacara (kaifiyah) –yang berupa hukum-hukum syara’– yang wajib dipegang seorang muslim tatkala ia memanfaatkan harta yang dimilikinya (Abdullah, 1990).

Mengapa seorang muslim wajib menggunakan cara-cara yang dibenarkan Asy Syari’ (Allah SWT) dalam mengelola harta miliknya? Sebab, harta dalam pandangan Islam pada hakikatnya adalah milik Allah SWT. Maka dari itu, ketika Allah telah menyerahkan kepada manusia untuk menguasai harta, artinya adalah hanya melalui izin-Nya saja seorang muslim akan dinilai sah memanfaatkan harta tersebut. Izin Allah itu terwujud dalam bentuk sekumpulan hukum-hukum syara’.

Walhasil, setiap muslim yang telah secara sah memiliki harta tertentu maka ia berhak memanfaatkan dan mengembangkan hartanya. Hanya saja dalam pengelolaan harta yang telah dimilikinya tersebut seorang ia wajib terikat dengan ketentuan-ketentuan hukum syara’ yang berkaitan dengan pengelolaan kepemilikan.
Secara garis besar, pengelolaan kepemilikan mencakup dua kegiatan. Pertama, pembelanjaan harta (infaqul mal). Kedua, pengembangan harta (tanmiyatul mal).

1) Pembelanjaan Harta

http://4.bp.blogspot.com/_AQLPsPNwDNY/SMpx5AnXyqI/AAAAAAAABdI/hA5_SHB11Yc/s320/sedekah.jpgPembelanjaan harta (infaqul mal) adalah pemberian harta tanpa adanya gantirugi (compesation) (An-Nabhani, 1990). Dalam pembelanjaan harta milik individu yang ada, Islam memberikan tuntunan bahwa harta tersebut pertama-tama haruslah dimanfaatkan untuk nafkah wajib seperti nafkah keluarga, infak fi sabilillah, membayar zakat, dan lain-lain. Kemudian nafkah sunnah seperti sedekah, hadiah dan lain-lain. Baru kemudian dimanfaatkan untuk hal-hal yang mubah. Dan hendaknya harta tersebut tidak dimanfaatkan untuk sesuatu yang terlarang seperti untuk membeli barang-barang yang haram seperti minuman keras, babi, dan lain-lain.

2) Pengembangan Harta

Pengembangan harta (tanmiyatul mal) adalah kegiatan mempergandakan jumlah harta yang telah dimiliki (An-Nabhani, 1990). Seorang muslim yang ingin mengembangkan harta yang telah dimiliki, wajib terikat dengan ketentuan Islam berkaitan dengan pengembangan harta. Secara umum Islam telah memberikan tuntunan pengembangan harta melalui cara-cara yang sah seperti jual-beli, kerja sama syirkah yang Islami dalam bidang pertanian, perindustrian, mahupun perdagangan. Selain Islam juga melarang pengembangan harta yang terlarang seperti dengan jalan aktiviti riba, judi, serta aktiviti terlarang lainnya.

http://www.anewb.com/blog/wp-content/uploads/2009/04/business-planning.jpgPengelolaan kepemilikan yang berhubungan dengan kepemilikan umum (collective property) itu adalah hak negara, kerana negara adalah wakil ummat. Meskipun menyerahkan kepada negara untuk mengelolanya, namun Allah SWT telah melarang negara untuk mengelola kepemilikan umum (collective property) tersebut dengan jalan menyerahkan penguasaannya kepada orang tertentu. Sementara mengelola dengan selain dengan cara tersebut diperbolehkan, asal tetap berpijak kepada hukum-hukum yang telah dijelaskan oleh syara’.

Adapun pengelolaan kepemilikan yang berhubungan dengan kepemilikan negara (state property) dan kepemilikan individu (private property), nampak jelas dalam hukum-hukum baitul mal serta hukum-hukum muamalah, seperti jual-beli, gadai (rahn), dan sebagainya. As Syari’ juga telah memperbolehkan negara dan individu untuk mengelola masing-masing kepemilikannya, dengan cara tukar menukar (mubadalah) atau diberikan untuk orang tertentu ataupun dengan cara lain, asal tetap berpijak kepada hukum-hukum yang telah dijelaskan oleh syara’.

Asas Ketiga : Pengagihan Kekayaan di Kalangan Manusia

Memandangkan pengagihan (distribution) kekayaan merupakan masalah yang sangat penting, maka Islam memberikan juga berbagai ketentuan yang berkaitan dengan hal ini. Mekanisma pengagihan kekayaan terwujud dalam sekumpulan hukum syara’ yang ditetapkan untuk menjamin pemenuhan keperluan barangan dan jasa bagi setiap individu rakyat. Mekanisma ini dilakukan dengan mengikuti ketentuan sebab-sebab kepemilikan (misalnya, bekerja) serta akad-akad muamalah yang wajar (misalnya jual-beli dan ijarah).

Namun demikian, perbezaan potensi individu dalam masalah kemampuan dan pemenuhan terhadap suatu keperluan, boleh menyebabkan perbezaan pengagihan kekayaan tersebut di antara mereka. Selain itu perbezaan di kalangan  individu mungkin akan menyebabkan terjadinya kesalahan dalam pengagihan kekayaan. Kemudian kesalahan tersebut akan membawa konsekuensi/akibat pengagihan kekayaan tersebut hanya kepada segelintir orang saja, sementara yang lain kekurangan, sebagaimana yang terjadi akibat penimbunan alat tukar yang fixed/matawang, seperti emas dan perak.

Oleh kerana itu, syara’ melarang kitaran kekayaan hanya di antara orang-orang kaya namun mewajibkan kitaran tersebut membabitkan semua orang. Allah SWT berfirman :

‘Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.’ (QS. Al-Hasyr : 7)

Di samping itu syara’ juga telah mengharamkan penimbunan emas dan perak (harta kekayaan) meskipun zakatnya tetap dikeluarkan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman :

‘Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahawa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.’ (QS. At-Taubah : 34)

Secara umum mekanisma yang dibentuk oleh sistem ekonomi Islam dikelompokkan menjadi dua, yakni mekanisma ekonomi dan mekanisma non-ekonomi.

Mekanisma Ekonomi

Mekanisma ekonomi adalah mekanisma melalui aktiviti ekonomi yang bersifat produktif, berupa kepelbagaian kegiatan pengembangan harta (tanmiyatul mal) dalam akad-akad muamalah dan sebab-sebab kepemilikan (asbab at-tamalluk). Pelbagai cara dalam mekanisma ekonomi ini, antara lain :

1. Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab kepemilikan dalam kepemilikan individu (misalnya membuka peluang pekerjaan samada di sektor pertanian, industri, dan perdagangan)

2. Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan harta (tanmiyah mal) melalui kegiatan pelaburan (misalnya dengan syirkah inan, mudharabah, dan sebagainya).

3. Larangan menimbun harta benda (wang, emas, dan perak) walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Harta yang ditimbun tidak akan menjana ekonomi. Pergerakan matawang / emas / perak atau apa saja harta akan menggerakkan kitaran ekonomi lantas menjana enjin ekonomi untuk keuntungan semua.

4. Mengatasi peredaran dan pemusatan kekayaan di satu2 daerah tertentu saja misalnya dengan memperluaskan peredaran modal dan mendorong tersebarnya pusat-pusat pertumbuhan baru.

5. Larangan kegiatan monopoli, serta berbagai penipuan yang dapat memutarbelitkan kegiatan pasar.

6. Larangan judi, riba, rasuah dan hadiah kepada penguasa. Semua ini akibatnya akan mengakumulasikan kekayaan kepada pihak yang kuat semata (seperti penguasa atau kroni).

7. Memberikan kepada rakyat hak pemanfaatan barang-barang milik umum (al- milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan, barang galian, minyak, listrik, air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat.

Mekanisma Non-Ekonomi

Mekanisma non-ekonomi adalah mekanisma yang tidak melalui aktiviti ekonomi yang produktif, melainkan melalui aktiviti non-produktif, misalnya pemberian (hibah, shadakah, zakat, dll) atau warisan. Mekanisma non-ekonomi dimaksudkan untuk melengkapi mekanisma ekonomi. Iaitu untuk mengatasi pengagihan kekayaan yang tidak berjalan sempurna jika hanya bersandarkan mekanisma ekonomi semata.

http://www.indonesia-osaka.org/photo/aceh-tsunami01.jpgMekanisma non-ekonomi diperlukan kerana adanya sebab-sebab alamiah mahupun non-alamiah. Sebab alamiah misalnya keadaan alam yang tandus, badan yang cacat, akal yang lemah atau terjadinya musibah bencana alam. Semua ini akan dapat menimbulkan terjadinya keterencatan ekonomi dan terhambatnya pengagihan kekayaan kepada orang-orang yang memiliki keadaan tersebut. Dengan mekanisma ekonomi biasa, pengagihan kekayaan tidak boleh berjalan kerana orang-orang yang memiliki hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat mengikuti persaingan kegiatan ekonomi secara normal sebagaimana orang lain. Bila dibiarkan saja, orang-orang itu, termasuk mereka yang ditimpa musibah (kecelakaan, bencana alam dan sebagainya) makin terpinggir secara ekonomi. Mereka akan menjadi masyarakat yang rentan terhadap perubahan ekonomi. Apabila berlanjutan, boleh menjadi punca munculnya masalah sosial seperti aktiviti jenayah (pencurian, rompakan dan ragut), gejala sosial (pelacuran, rempit, bohsia) dan sebagainya, bahkan mungkin revolusi sosial.

Mekanisma non-ekonomi juga diperlukan kerana adanya sebab-sebab non-alamiah, iaitu adanya penyimpangan mekanisma ekonomi. Penyimpangan mekanisma ekonomi ini jika dibiarkan akan menimbulkan ketempangan dalam pengagihan kekayaan. Bila penyimpangan ini terjadi, negara wajib menghalangkannya daripada berlaku. Misalnya jika terjadi monopoli, hambatan masuk (barrier to entry) — baik dari sudut pengurusan mahupun operasi — dan sebagainya, atau unsur2 jahat dalam mekanisma ekonomi (misalnya penimbunan), harus segera dihalang oleh negara.

Mekanisma non-ekonomi bertujuan agar di tengah masyarakat segera terwujud keseimbangan (al-tawazun) ekonomi, yang akan dilakukan dengan beberapa cara. Pengagihan harta dengan mekanisme non-ekonomi antara lain adalah :

1. Pemberian harta negara kepada warga negara yang dinilai memerlukan.
2. Pemberian harta zakat yang dibayarkan oleh muzakki kepada para mustahik.
3. Pemberian infaq, sedekah, wakaf, hibah dan hadiah dari orang yang mampu kepada yang memerlukan.
4. Pembagian harta waris kepada ahli waris dan lain-lain.

Demikianlah sekilas gambaran tentang asas-asas sistem ekonomi Islam. Untuk memberikan pemahaman yang lebih luas dan dalam, maka perincian seluruh aspek yang dikemukakan di atas perlu dilakukan. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a Reply

Message:

  • Browse

    or
  • Advertisements

    • http://www.blueboxevent.com.my/kenaboi/index.htm
    • http://www.blueboxevent.com.my/flexevoucher/index.htm
  • Calendar

    June 2009
    M T W T F S S
    « May   Jul »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    2930  
  • Archives

  • Recent Posts

  • Administration

  • Categories & Tag

  • Highlighted events

      No events to show
  • Sembang Kedai Kopi